Breaking News
Home / Cerita sex / CERITA SEX ABG | TANTEKU YANG GIRANG KUHABISKAN JUGA AKHIRNYA

CERITA SEX ABG | TANTEKU YANG GIRANG KUHABISKAN JUGA AKHIRNYA

CERITA SEX ABG | TANTEKU YANG GIRANG KUHABISKAN JUGA AKHIRNYAKetika itu tengah malam hri saya disuruh oleh tante unutk sehingga duluan , tante menunggu om yg jelasnya datangnya pulang tengah malam, saya masihlah terbayang terhadap kejadian di siang hri itu di mana saya menikmati payu dara tante bersama segala imajinasi liarku, tiba tiba saya dikagetkan bersama kehadiran tante yg telah memanfaatkan pakain pakaian maninya di depanku.

Lady karina bukan seleb 4

Rambutnya yg masihlah basah & ditutupi handuk, serta-merta duduk disampingku persis disebelahku lebih kagetnya saya tante tiba tiba duduk di atas pangkuanku, Gilakkkk dalam hati kecilku pantat tante yg semok itu menggoyang goyangkan automatis dedekku mengeras dgn teramat serentak merasakan tindihan pantat tante.

& tangan tante yg menyuruhku buat meyelinap di antara handuk yg menempel ditubuh tante tidak dapat kusia –siakan kesempatn itu serentak ke-2 tanganku meremas remas payu dara tante yg tetap dingin habis mandi, sungguh teramat kencang payu dara tante & lembut kulitnya saya nikmati putingnya kumainkan dgn sepenuh hatiku.

Tantepun menggoyang pantatnya, terasa enak di kelaminku. Goyangan semakin serta-merta, saya menjadi merasa geli di ujung penisku. Rasa geli semakin meningkat & meningkat, &.. Aaaaah, saya merasakan nikmat yg belum sempat kualami, & eh, ada sesuatu terasa ke luar berbarengan rasa nikmat tadi, seperti pipis &? saya terbangun.

Sialan! Hanya mimpi rupanya. Periode memimpikan Tante, saya menjadi malu sendiri. Kejadian siang tadi demikian membekas hingga terbawa mimpi. Eh, celanaku basah. Mana barangkali saya ngompol. Dulu apa dong ? Cepat-cepat saya memeriksa.

Memang Lah saya ngompol! Namun tunggu lalu, kok airnya lain, lengket-lengket agak kental. Ah, mengapa serta saya ini ? Apa yg berlangsung denganku ? Besok mencoba saya bertanya terhadap Oom. Gila apa! Jangan Sampai sama Oom dong. Dulu bertanya terhadap Tante, tidak barangkali serta. Mencoba ada Mas Joko, kakak kelasku di ST lalu. Bisa Jadi sohib sekolahku ada yg tahu, besok saya tanyakan.

Esoknya saya ceritakan hal tersebut pada Dito sahabat paling dekat. Telah barang pasti kisahnya saya modifikasi, bukan Tante yg duduk di pangkuanku, tetapi ?seorang yg tidak kukenal?. ?Anda baru mengalami tadi malam?? ?Ya, tadi tengah malam.??Telat banget.

Saya telah mengalami selama kelas 2 SMP, dua th dulu. Itu namanya mimpi basah.? ?Mimpi basah ???Ya. Itu tandanya anda sejak mulai dewasa, telah aqil-baliq. Lho, emangnya anda belum sempat dengar ?? Malu pun saya dibilang telat & belum tahu mimpi basah.

Namun pula ada rasa sedikit bangga, saya mulai sejak dewasa! ?Rupanya anda tubuh aja yg akbar, pikiran tetap anak-anak.? Ah agar saja. Sekian Banyak hri sebelum mimpi basah itu toh saya sudah?menghayati? perempuan yang merupakan orang dewasa! ?Anda punyai doi?? ?Engga.??Atau sempat pacaran ???Engga pula.??Pantesan telat bila demikian.

Kala kelas 3 SMP saya miliki si sayang, sahabat sekelas. Enak deh, sekolah menjadi semangat.? ?Jika pacaran ngapain aja sih ?? tanyaku lugu. Memang Lah betul saya belum tahu berkenaan pacaran. Berkaitan wanitapun saya baru tahu sekian banyak hri dulu.

Ha.. ha.. ha.! Kampungan lu! Ya tergantung orangnya. Jikalau saya sih paling-paling ciuman, raba-raba, udah. Bila si Ricky kelewatan, hingga pacarnya hamil.? Ciuman, raba-raba. Saya sempat saksikan orang ciuman di filem Televisi, enak serta nampaknya, belum sempat saya membayangkan.

Jika meraba, sempat kubayangkan meremas dada Tante.?Hamil ?? Pelajaran baru nih. ?Ada pun yg hingga ?gitu? tetapi engga hamil. Engga tahu saya caranya macam mana.??Gitu gimana?? ?Anda betul-betul engga tahu ?? Dulu dia narasi bagaimanakah pertalian kelamin itu.

menggunakan bisik-bisik pastinya. Saya menjadi tegang. Pantaslah saya dibilang kampungan, benar-benar betul-betul baru tahu sekarang. Kelamin lelaki masuk ke kelamin perempuan, ke luar bibit manusia, dulu hamil. Bibit! Bisa Saja yg ke luar dari kelaminku semalam yakni bibit manusia.

Macam Mana mungkin saja kelaminku se gede ini dapat masuk ke lubang pipis wanita? Se Besar apa lubangnya, & dimana ? Yg sempat saya saksikan kelamin perempuan itu mungil, berbentuk segitiga terbalik & ada belahan mungil di ujung bawahnya.

Tetapi yg kulihat lalu itu di desa ialah kelamin anak-anak wanita yg sedang mandi di pancuran. Kelamin perempuan dewasa sama sekali saya belum sempat tonton. Gimana wujudnya ya ? Bisa Jadi segitiganya lebih agung.

Ah, pikiranku terlampaui jauh. Ciuman saja lalu. Saya sependapat bersama Dito, jikalau pacaran ciuman & raba-raba saja. Saya menjadi mau pacaran, tetapi siapa yg ingin pacaran sama saya yg kuper ini ? Ya dicari dong! Si Rika, Ani atau Yuli ? Siapa sajalah, asal ingin menjadi pacarku, untuk ciuman & diraba-raba. Kelihatannya sedap.

Dalam perjalanan pulang saya membayangkan gimana jikalau saya pacaran sama Rika. Pahanya yg pass mulus enak dielus-elus. Tanganku tetap ke atas mengakses kancing bajunya, dulu menyelusup &? sopir Bajaj itu memaki-maki membuyarkan lamunanku.

Tidak Dengan sadar saya terjadi terlampaui ke tengah. Di balik kutang Rika cuma ada sedikit tonjolan, tidak ada ?pegangan?, kurang enak ah. Tiba-tiba Rika beralih menjadi Ani. Melamun itu benar-benar enak, sanggup kita atur semau kita.

Diwaktu terhubung kancing pakaian Ani saya mulai sejak tegang. Kususupkan empat jariku ke balik kutang Ani. Nah ini, montok, keras biarpun tidak demikian halus. Telapak tanganku tidak lumayan untuk ?menampung? dada Ani.

Saya berakhir, menunggu lampu penyeberangan menyala hijau. Hingga di seberang jalan kusambung khayalanku. Ani sudah beralih jadi Yuli. Anak ini memang lah manis, lebih-lebih seandainya tersenyum, bibirnya indah, setidaknya menurutku.

Saya sejak mulai mendekatkan mulutku ke bibir Yuli yg selanjutnya terhubung mulutnya sedikit, persis seperti di film Televisi tempo hari. Kamipun berciuman lama. Kancing pakaian seragam Yulipun sejak mulai kulepas, dua kancing dari atas saja lumayan. Kubayangkan, meskipun dari luar dada Yuli menonjol biasa, tidak mungil & tidak akbar, nyata-nyatanya dadanya gede pula. Kuremas-remas sepuasnya hingga tiba di depan rumah.

Saya kembali ke dunia nyata. Masuk lewat pintu garasi seperti biasa, terhubung pintu tengah hingga ke tempat keluarga. Pun seperti biasa apabila memperoleh Tante sedang membaca majalah sambil rebahan di karpet, atau menyulam, atau sekedar nonton Televisi di lokasi keluarga.

Yg tak biasa yaitu, ke-2 bukit kembar itu. Tante membaca sambil tengkurap menghadap pintu yg sedang kumasuki. Posisi punggungnya terus tegak dgn bertumpu kepada siku tangannya. Mengenakan daster dgn potongan dada rendah, rendah sekali.

Ini serta tidak biasa, atau lantaran saya jarang memperhatikan sektor atas. Tidak ayal lagi, ke-2 bukit putih itu nyaris seluruh nampak. Belahannya terang, hingga urat-urat lembut agak kehijauan di ke-2 buah dada itu samar-samar terlihat.

Saya tidak melewatkan peluang emas ini. Tante menonton sebentar ke arahku, senyum sekejap, tetap membaca lagi. Akupun berlangsung amat sangat perlahan sambil mataku tidak lepas dari pemandangan amat sangat indah ini?

Nyaris komplit saya?menggali ilmu? badan Tanteku ini. Wajah dan?komponen?nya mata, alis, hidung, pipi, bibir, semuanya indah yg membuahkan : elegan. Meskipun dipandang sekejap, terlebih berlama-lama.

Paha & kaki, panjang, semuanya putih, mulus, berbulu halus. Pinggul, walau baru tonton dari wujudnya saja, tidak demikian lebar, proporsional, dgn pantat yg menonjol bulat ke belakang. Pinggang, demikian sempit & perut yg rata. Ini serta cuma dari luar.

& yg terakhir buah dada. Cuma puting ke bawah saja yg belum saya saksikan cepat. Jikalau daerah pinggul, bidang depannya saja yg saya belum mampu membayangkan. Benar-benar saya belum sempat membayangkan, terlebih menonton kelamin perempuan dewasa. Saya tetap penasaran kepada yg satu ini.

Keesokkan harinya, siang-siang, Dito memberiku sampul warna coklat agak agung, dengan cara sembunyi-sembunyi.

Nih, untuk anda

Apa nih ?

Simpan aja dahulu, lihatnya di rumah, Hati-hati Saya semakin penasaran. Lanjutan pelajaranku tempo hari. Gambar-gambar asyik bisiknya.

Hingga di rumah saya berniat cepat masuk kamar buat periksa benda pemberian Dito. Tante lagi membaca di karpet, kali ini terlentang, mengenakan daster dgn kancing di tengah membelah badannya dari atas ke bawah.

Kancingnya yg terbawah lepas satu buah yg mengakibatkan sebahagian pahanya nampak, putih. Suguhan yg nikmat sebenarnya, namun kunikmati cuma sebentar saja, pikiranku sedang tertuju ke sampul coklat.

Bersama tidak sabaran kubuka sampul itu, setelah mengunci pintu kamar, pastinya. Wow, gambar perempuan bule telanjang bulat! Kayaknya ini lembaran tengah sebuah majalah, karena gambarnya memenuhi dua halaman penuh.

Perempuan bule berrambut coklat berbaring terlentang di ruangan tidur. Serta-merta saja saya mengeras. Buah dadanya akbar bulat, putingnya lagi-lagi menonjol ke atas warna coklat belia. Perutnya halus, & ini dirinya, kelaminnya! Sungguh beda jauh bersama apa yg sejauh ini kuketahui.

Saya tidak menemukan segitiga terbalik itu. dibawah perut itu ada rambut-rambut halus keriting. Ke bawah lagi, lho apa ini ? Sebelah kaki cewe itu dilipat maka lututnya ke atas & sebelahnya lagi menjuntai dipinggir ranjang memperlihatkan selangkangannya. Inilah rupanya lubang itu. Wujudnya demikian rumit.

Ada daging berlipat di kanan kirinya, ada tonjolan mungil di ujung atasnya, lubangnya ditengah terbuka sedikit. Barangkali di sinilah area masuknya kelamin lelaki. Namun, mana lumayan ? Oo, seperti inilah rupanya bentuk kelamin perempuan dewasa.

Tiba-tiba pikiran nakalku kambuh : begini jugakah miliki Tante? Pertanyaan yg jelas-jelas tidak mungkin saja mendapati jawaban! Gimana bersama punyai Rika, Ani, atau Yuli? Sama sulitnya buat mendapati jawaban.

Lupakan saja. Tunggu lalu, mungkin saja Si Mar pembantu itu sanggup memberikan jawaban. Orangnya penurut, paling tak dirinya senantiasa taat terhadap perintah majikannya, termasuk juga saya. Bahkan dahulu itu tidak dengan saya minta membantuku beres-beres kamarku, bersama suka serta.

Orangnya lincah & ramah. Tak terlampaui buruk, namun bersih. Seandainya telah dandan sore hri ngobrol bersama pembantu sebelah, orang tidak menyangka seandainya beliau pembantu. Dahulu ketika perdana kali ketemupun saya tidak mengira bahwa dia pembantu.

Tiap-tiap pagi dia menyapu & mengepel seluruhnya lantai, termasuk juga lantai kamarku. Kadang-kadang saya pernah memperhatikan pahanya yg tersingkap selama ngepel, bersih serta. Yg terang beliau periang & sedikit genit.

Tetapi musim kusuruh dia terhubung celana dalamnya Mencoba Mar saya pengin tonton punyamu, sama engga dgn yg di majalah Gila!. Janganlah serentak demikian, pacari saja lalu. Ah, pacaran kok sama pembantu. Apa salahnya? dari kepada tak pacaran sama sekali. Okey, namun dengan cara apa ya trik memulainya ? Ah, basic kuper!

Saya menjadi lebih memperhatikan Si Mar. Bisa Jadi beliau setahun atau dua thn lebih sepuh dariku, seputar 18 lah. Wajahnya biasa-biasa saja, bersih & senantiasa cerah, kulit agak kuning, dadanya tidak demikian agung, namun telah berbentuk.

Paha & kaki bersih. Sejak Mulai hri ini saya bertekat utk sejak mulai menggoda Si Mar, namun mesti hati-hati, janganlah hingga diketahui oleh siapapun. Seperti hari-hari yang lain beliau membersihkan kamarku kala saya sedang sarapan. Pagi ini saya sengaja menunda makan pagiku menunggu Si Mar. Tante masihlah ada di kamarnya. Si Mar masuk namun ingin ke luar lagi waktu menonton saya ada di dalam kamar.

Masuk aja mbak, engga apa-apa kataku sambil pura-pura sibuk membenahi buku-buku sekolah. Masuklah dirinya & sejak mulai bersih-bersih. Tanganku konsisten sibuk berbenah sementara mataku melihatnya tetap.

Sepasang pahanya tampak, telah biasa sih perhatikan pahanya, tetapi kali ini lain. Dikarenakan saya membayangkan apa yg ada di ujung atas paha itu. Saya mengeras. Sekilas nampak belahan dadanya kala dirinya membungkuk-bungkuk mengikuti irama ngepel. Tiba-tiba dia melihatku, barangkali merasa saya tonton konsisten.

Mengapa, Mas Kaget saya.

Ah, engga. Apa mbak engga cape tiap hri ngepel

Perdana sih capek, lama-lama biasa, benar-benar udah kerjaannya jawabnya cerah.

Udah berapa lama mbak kerja di sini ?

Udah dari mungil aku di sini, udah 5 thn

Betah ?

Betah dong, Ibu baik sekali, engga sempat geram. Mas dari mana sih asalnya ?Tanyanya tiba-tiba. Kujelaskan asal-usulku.

Oo, engga jauh dong dari desaku. Aku dari Cilacap

Pekerjaannya selesai. Diwaktu hendak ke luar kamar saya mengucapkan terimakasih.

Tumben. Tuturnya sambil tertawa mungil. Ya, tumben rata-rata saya tidak bilang apa-apa.

Mana, yg tempo hari? Dito meminta gambar cewe itu.

Lho, tuturnya untuk saya

Jangan Sampai dong, itu saya koleksi. Kembaliin dahulu entar saya pinjamin yg lain, lebih serem!

Besok deh, kubawa

Hingga di rumah Si Luki sedang main di taman sama pengasuhnya. Sebentar saya ikut main bersama anak Oomku itu. Tinah sedikit lebih putih dibanding Si Mar, namun jangan sampai di bandingkan bersama Tante, jauh.

Orangnya pendiam, kurang menarik. Dadanya biasa saja, pinggulnya yg akbar. Namun saya tidak menolak apabila dia ingin memperlihatkan miliknya. Pokoknya milik siapa saja deh, Rika, Ani, Yuli, Mar, atau Tinah asal itu kelamin perempuan dewasa.

Penasaran saya terhadap barang yg satu itu. Lebih-lebih milik Tante, memang lah sebuah karunia jikalau saya sukses melihatnya! Di dalam ada Si Mar yg sedang nonton telenovela buatan Brazil itu. Saya kurang senang, meski pemainnya cantik-cantik. Ceritanya berbelit. Duduk di karpet sembarangan, lagi-lagi pahanya tampak. Rasanya si Mar ini semakin menarik.

Ingin makan saat ini, Mas ?

Entar aja lah

Kelak bilang, ya. Supaya aku siapin

Tante mana mbak?

Kan senam Oh ya, ini hri Rabu, jadwal senamnya. Seminggu Tante senam tiga kali, Senin, Rabu & Jumat. Diwaktu saya selesai merubah baju, saya ke area keluarga, maksudku ingin mengamati Si Mar lebih terang. Namun Si Mar cepat-cepat ke dapur menyiapkan makan siangku. Agar sajalah, toh ada banyak peluang. Mengapa tak ke dapur saja pura-pura bantu ? Akupun ke dapur.

Masak apa hri ini ? Saya berbasa-basi.

Ada ayam panggang, oseng-oseng tahu, sayur lodeh, memilih aja

Saya ingin seluruhnya Candaku. Beliau tertawa renyah. Pass untuk kata pembukaan.

Sini saya bantu

Ah, engga usah Namun dia tidak melarang saat saya membantunya. Ih, pantatnya menonjol ke belakang walaupun pinggulnya tidak agung. Saya ngaceng. Kudekati dirinya. Mau rasanya meremas pantat itu. Sekian Banyak kali kusengaja menyentuh badannya, seakan-akan tidak sengaja. Kan lagi menunjang beliau. Bakal serta peluang tanganku menyentuh pantatnya, kelihatannya sih padat, saya tidak percaya, hanya nyenggol sih. Mar tidak berreaksi. Hasilnya saya tidak tahan, kuremas pantatnya. Kaget dia menolehku.

Iih, Mas To genit, ah menurutnya, namun tak memprotes.

Habis, badanmu bagus sih. Sekarang Ini saya percaya, pantatnya memang lah padat.

Ah, biasa saja kok

Akupun berlanjut, kutempelkan tubuh depanku ke pantatnya. Barangku yg telah mengeras terasa menghimpit pantatnya yg padat, meskipun terlapisi sekian lembar kain. Saya percaya iapun merasakan kerasnya punyaku. Berlanjut lagi, ke-2 tanganku kedepan mau memeluk perutnya. Tetapi ditepisnya tanganku.

Ih, nakal. Udah ah, makan dahulu sana!

Iya deh makan lalu, habis makan konsisten macam mana ?

Yeee! sahutnya mencibir tetapi tidak beram. Tangannya berberes lagi sesudah tadi berakhir sejenak kuganggu. Biarpun penasaran dikarenakan aksiku terpotong, namun saya mendapat sinyal bahwa Si Mar tidak menolak kuganggu. Cuma tingkat mau-nya hingga seberapa jauh, mesti kubuktikan dgn aksi-aksi kemudian!

Kembali saya menunda sarapanku utk perbuatan seterusnya yg sudah kukhayalkan tadi tengah malam. Saat beliau sedang menyapu di kamarku, kupeluk dia dari belakang. Sapunya jatuh, sejenak dia tidak berreaksi. Amboi ..dadanya berisi pun! Terang saya merasakannya di tanganku, bulat-bulat padat. Seterusnya Si Marpun meronta.

Ah, Mas, janganlah! protesnya pelan sambil melirik ke pintu. Saya melepaskannya, khawatir jika beliau berteriak. Sabar dahulu, ada banyak peluang.

trimakasih kataku disaat beliau melangkah ke luar kamar. Dirinya cuma mencibir memoncongkan mulutnya lucu. Mukanya konsisten cerah, tidak geram. Kini saya satu langkah lebih maju!

Saya ingat janjiku hri ini utk mengembalikan poto porno milik Dito. Tetapi dimana photo itu ? Jangan-jangan ada yg mengambilnya. Saya percaya betul tempo hari saya selipkan di antara buku Fisika & Stereometri (ke-2 buku itu memang lah lebar, dapat menutupi).

Nah ini beliau ada di dalam buku Gambar. Tentu ada satu orang yg memindahkannya. Logikanya, sebelum orang itu memindahkan, pasti beliau pernah melihatnya. Tiba-tiba saya cemas. Siapa ya ? Si Mar, Tinah, atau Tante ? Atau lebih jelek lagi, Oom Ton ? Saya menjadi memikirkannya. Siapapun orang rumah yg menyaksikan photo itu, membuatku malu sekali! Yg mutlak, saya mesti kembalikan ke Dito saat ini.

Siangnya pulang sekolah diwaktu saya masuk ke lokasi keluarga, Si Mar sedang memijit punggung Tante. Tante tengkurap di karpet, Si Mar menaiki pantat Tante. Punggung Tante itu terbuka 100 persen, tiada tali kutang di sana.

Putihnya mak..! Si Mar cepat-cepat menutup punggung itu disaat tahu mataku menjelajah ke sana, sambil melihatku dgn senyum penuh arti. Sialan! Si Mar tahu persis kenakalanku. Saya masuk kamar.

Hilang peluang menikmati punggung putih itu. Tadi pagi saya lupa mengambil buku Gambar gara-gara mengurus poto si Dito. Saya berniat mempersiapkan dari saat ini sambil mengupayakan melupakan punggung putih itu.

Sesuatu jatuh bertebaran ke lantai kala saya membawa buku Gambar. Seketika dadaku berdebar kencang sesudah tahu apa yg jatuh tadi. Lepasan dari majalah asing. Di tiap pojok bawahnya tercatat Hustler edisi thn dulu.

Satu serial poto sepasang bule yg sedang berhubungan kelamin! Ada tiga gambar, gambar mula-mula Si Cewe terlentang di ranjang terhubung kakinya sementara Si Cowo berdiri diatas lututnya memegang alatnya yg tegang agung (serupa punyaku bila lagi tegang hanya beda warna, punyaku gelap) menempelkan kepala penisnya ke kelamin Cewenya. Menurutku, ia menempelnya kok agak ke bawah, di bawah segitiga terbalik yg penuh ditumbuhi rambut halus pirang.

Gambar ke-2, posisi Si Cewe masihlah sama cuma ke-2 tangannya memegang bahu si Cowo yg saat ini cenderung ke depan. Terlihat terang separoh batangnya saat ini terbenam di selangkangan Si Cewe. Lho, kok di situ masuknya ? Kuperhatikan lebih saksama.

Kelihatannya beliau masuk bersama benar, lantaran di samping jalan masuk tadi ada yg berlipat-lipat, persis gambar milik Dito tempo hari. Menurut bayanganku sampai kini, selayaknya masuknya penis agak lebih ke atas.

Baru tahu saya, khayalanku sampai kini nyatanya salah! Gambar ke-3, ke-2 kaki Si Cewe diangkat mengikat punggung Si Cowo. Tubuh mereka lengket berimpit & pasti saja sarana Si Cowo telah semua tenggelam di ruangan yg patut kecuali sepasang telornya saja menunggu di luar.

Mulut lelaki itu menggigit leher wanitanya, sementara telapak tangannya menekan buah dada, ibujari & telunjuk menjepit putting susunya. Gemetaran saya mengamati gambar-gambar ini bergantian. Tidak Dengan sadar saya terhubung resleting celanaku mengeluarkan milikku yg dari tadi sudah tegang.

Kubayangkan punyaku ini separoh tenggelam di ruang si Mar persis gambar ke-2. Kenyataanya memang lah kini telah separoh terbenam, namun di dalam tangan kiriku. Akupun meniru gambar ke3, tenggelam semua, gambar ke-2, setengah, ke3, semua..geli-geli nikmat tetap kugosok semakin geli.. gosok lagi.. makin geli &.. saya terbang di awan.. saya melepas sesuatu hah.. cairan itu tersebar ke sprei bahkan hingga bantal, putih, kental, lengket-lengket.

Enak, sedap seperti ketika mimpi basah. Sadar saya waktu ini ada di kasur lagi, sekian banyak detik yg dulu saya masihlah melayang-layang. He! Mengapa saya ini? Apa yg kulakukan ? Saya gugup. Berbenah. Lap sini lap sana. Kacau! Kurapikan lagi celanaku, sementara si Beliau tetap tegang & berdenyut, masihlah ada yg menetes.

Saya menyesal, ada rasa bersalah, rasa berdosa atas apa yg baru saja kulakukan. Saya tercenung. Gambar-gambar sialan itu yg menyebabkan saya begini. Masturbasi. Istilah aneh itu baru saya ketahui dari temanku sekian banyak hri setelahnya. Si Dito menyebutnya ngeloco. Aneh. Ada sesuatu yg lain kurasakan, keteganganku lenyap. Pikiran menjadi cerah biarpun tubuh agak lemas.

Sehari itu saya menjadi tidak bersemangat, ingat perbuatanku siang tadi. Rasanya saya sudah berbuat dosa. Saya menyalahkan diriku sendiri. Bukan salahku seluruh, saya cobalah membela diri. Gambar-gambar itu serta miliki dosa.

Tepatnya, pemilik gambar itu. Eh, siapa yg miliki ya ? Tahu-tahu ada di balik buku-bukuku. Siapa yg menyimpan di situ ? Ah, peduli teramat. Dapat kumusnahkan. Saya berjanji tak akan mengulanginya lagi, tak mau masturbasi lagi. Perasaan seperti ini tetap terbawa hingga keesokkan harinya lagi. Maka kulewatkan peluang buat meraba dada Mar seperti tempo hari. Dia sudah berikan lampu hijau utk saya tindaklanjuti. Namun saya lagi tidak bersemangat. Tetap ada rasa bersalah.

Hri berikutnya saya mesti tegang lagi. Bukan sebab Si Mar yg(menurutku) bersedia dijamah tubuhnya. Namun lagi-lagi lantaran Si Putih molek itu, Tante Yani. Siang itu saya pulang agak awal, pelajaran terakhir bebas.

Sebentar saya melayani Luki melempar-lempar bola di halaman, dulu masuk melalui garasi, seperti biasa. Nyaris pingsan saya saat mengakses pintu menuju lokasi keluarga. Tante berbaring terlentang, mukanya tertutupi majalah Femina, terdengar dengkur amat halus & rutin.

Rupanya ketiduran sehabis membaca. Mengenakan baju-mandi seperti dahulu tetapi ini warna pink belia, rambut tetap terbebat handuk. Agaknya habis keramas, membaca konsisten ketiduran. Model pakaian mandinya seperti yg warna putih itu, belah di depan & cuma satu pengikat di pinggang.

Terang dirinya tidak memanfaatkan kutang, nampak dari wujud buah dadanya yg menjulang & bulat, juga belahan dadanya semua nampak hingga ke bulatan bawah buah itu. Sepasang buah bulat itu naik-turun mengikuti irama dengkurannya.

Berikut inilah yg membuatku nyaris pingsan. Kaki kirinya tertekuk, lututnya ke atas, maka belahan bawah baju-mandi itu terbuang ke samping, memberiku pelajaran baru mengenai badan perempuan, khususnya milik Tante. Tidak ada celana dalam di sana.

Tanteku nyata-nyatanya miliki bulu lebat. Tumbuh menyelimuti nyaris semua segitiga terbalik. Berwarna hitam legam, halus & mengkilat, tebal ditengah menipis di pinggir-pinggirnya. Arah tumbuhnya seolah diatur, dari tengah ke arah tepi sedikit ke bawah kanan & kiri.

Tidak Serupa dgn yg di gambar, rambut Tante yg di sini lurus, tidak keriting. Wow, sungguh karya seni yg indah sekali! Kelaminku tegang luar biasa. Saya tonton sekeliling. Si Tinah sedang main dgn anak asuhnya di halaman depan. Si Mar di belakang, mungkin saja sedang menyetrika. Jika Tante sedang di ruangan ini, umumnya Si Mar tak kesini, kecuali bila diminta Tante memijit. Aman!

Bersama wajah tertutup majalah saya menjadi bebas meneliti kewanitaan Tante, kecuali jika beliau tiba-tiba terbangun. Namun saya kan waspada. Nyaris tidak bersuara kudekati milik Tante. Saat Ini giliran bidang bawah rambut indah itu yg kecermati.

Ada daging berlipat, ada benjolan mungil warna pink, tampaknya lebih menonjol dibanding milik bule itu. & dibawah benjolan itu ada pintu. Pintu itu begitu mungil, cukupkah punyaku masuk ke dalamnya ? Punyaku ? Enak saja! Memangnya lubang itu milikmu ?

bisa jadi kini saya melepas celanaku, mengarahkan ujungnya ke situ, persis gambar perdana, mendorong, seperti gambar ke-2, & Tiba-tiba Tante menggerakkan tangannya. Terbang semangatku. Jika ada cermin di situ tentu saya dapat menonton wajahku yg pucat pasi. Dengkuran halus terdengar kembali.

Untung., nyenyak benar tidurnya. Bidang atas baju-mandinya jadi lebih terbuka dikarenakan aktivitas tangannya tadi. Walau perasaanku tidak karuan, tegang, berdebar, nafas sesak, namun pikiranku masihlah waras utk tak terhubung resleting celanaku.

Dapat berantakan periode depanku. Saya mencatat sekian banyak perbedaan antara milik Tante bersama milik bule yg di majalah itu. Rambut, milik Tante hitam lurus, milik bule coklat keriting. Benjolan mungil, milik Tante lebih panjang, warna sama-sama pink.

Pintu, milik Tante lebih mungil. Lengkaplah telah saya menggali ilmu badan perempuan. Utuhlah telah saya mengamati semua badan Tante. Seluruh ? Nyata-nyatanya tak, yg belum sempat saya saksikan sama sekali : puting susunya.

Mengapa tak sekarang? Peluang terbuka di depan mata, lho! Mataku berubah ke atas, ke bukit yg bergerak naik-turun rutin. Dada kanannya semakin lebar terbuka, ada garis slim warna coklat jejaka di ujung kain.

Itu merupakan lingkaran mungil di tengah buah, cuma pinggirnya saja yg kelihatan. Saya merendahkan kepalaku mengintip, masihlah saja putingnya tidak tampak. Ya, cuma bersama sedikit menggeser pinggir pakaian mandi itu ke samping, lengkaplah telah kurikulum pelajaran anatomi badan Tante.

Bersama teramat hati-hati tanganku menjangkau pinggir kain itu. Mendadak saya ragu. Apabila Tante terbangun bagaimana? Kuurungkan niatku. Tetapi pelajaran tidak selesai dong! Ayo, jangan sampai bimbang, toh ia sedang tidur nyenyak.

Ya, dengkurannya yg rutin menandakan dia tidur nyenyak. Kembali kuangkat tanganku. Kuusahakan janganlah kulitnya tersentuh. Kuangkat pelan pinggir kain itu, & sedikit demi sedikit kugeser ke samping.

Terhenti, ada yg nyangkut rupanya. Angkat sedikit lagi, geser lagi. Kutunggu reaksinya. Masihlah mendengkur. Aman. Terbukalah telah.. Puting itu berwarna merah jambu bersih. Berdiri tegak menjulang, bak mercusuar mini. Amboi . indahnya buah dada ini. Tidak tahan saya mau meremasnya. Jangan Sampai, bahaya. Saya mesti cepat-cepat berangkat dari sini. Bukan saja khawatir Tante terbangun, tetapi takut saya tidak sanggup menahan diri, menubruk badan indah tergolek nyaris telanjang bulat ini.

Saya menjadi tidak kalem. Berulang kali terbayang rambut-rambut halus kelamin & puting merah jambu milik Tante itu. Lebih-lebih menjelang tidur. Tidak Dengan sadar saya mengusap-usap milikku yg tegang tetap ini. Tetapi saya cepat ingat janjiku utk tak masturbasi lagi. Mendingan praktek cepat. Namun dgn siapa ?

Hri ini saya pulang langsung. Masihlah ada dua mata pelajaran sebetulnya, saya membolos, sekali-kali. Toh tidak sedikit pula kawanku yg demikian. Percuma di kelas saya tidak dapat berkonsentrasi. Di garasi saya ketemu Tante yg siap-siap ingin berangkat senam.

Dibalut pakaian senam yg ketat ini Tante menjadi spesial. Tubuhnya memang lah luar biasa. Dadanya membusung tegak ke depan, bidang pinggang menyempit ramping, ke bawah lagi melebar dgn pantat menonjol bulat ke belakang, ke bawah menyempit lagi.

Sepasang paha yg hampir bulat seperti batang pohon pinang, sepasang kaki yg panjang ramping. Walau tertutup rapat saya ngaceng pula. Lagi-lagi saya terrangsang. Diam-diam saya bangga, lantaran di balik baju senam itu saya sempat melihatnya, nyaris seluruh! Justru sektor badan yg penting-penting telah semua kulihat tidak dengan dirinya tahu! Salah sendiri, teledor sih. Ah, salahku pun, buktinya tempo hari saya menyingkap putingnya.

Lho, kok udah pulang, To sapanya ramah. Ah bibir itu serta menggoda.

Iya Tante, ada pelajaran bebas jawabku berbohong. Kubukakan pintu mobilnya. Sekilas tampak belahan dadanya disaat dirinya memasuki mobil. Uih, dadanya serasa ingin meledak lantaran ketatnya pakaian itu.

Terima kasih jelasnya. Tante berangkat lalu ya. Mobilnya hilang dari pandanganku.

Selasai mandi hri telah nyaris gelap. Di lokasi keluarga Tante sedang duduk di sofa nonton Televisi sendiri.

Senamnya dimana Tante ? Saya cobalah terhubung percakapan. Saya memberanikan diri duduk di sofa yg sama sebelah kanannya.

Dekat, di Tebet Timur Dalam. Tengah Malam ini Tante mengenakan daster pendek tidak berlengan, ada kancing-kancing di tengahnya, dari atas ke bawah.

Tumben, anda tidur siang

Iya Tante, tadi main-main voli di situ jawabku tangkas.

Anda gemar bermain voli ?

Di Kampung aku tidak jarang olah-raga Tante Saya mulai sejak berani memandangnya serta-merta, dari dekat lagi. Ih, bahu & lengan atasnya putih banget!

Pantesan badanmu bagus Menyukai pula saya dipuji Tanteku yg kasep ini.

Ah, Jika ini bisa saja aku dari mungil kerja keras di kebun, Tante Wow, buah putih itu mengintip di antara kancing mula-mula & ke-2 di tengah dasternya. Ada yg bergerak di celanaku.

Kerja apa di kebun ?

Mengolah tanah, menanam, memupuk, panen Buah dada itu rasanya ingin meledak ke luar.

Apa saja yg anda tanam ? tanyanya lagi sambil mengubah posisi duduknya, menyilangkan sebelah kakinya.

Kancing terakhir daster itu telah terlepas. Ketika sebelah pahanya menaiki pahanya lainnya, ujung kain daster itu tak ikut, menjadi 70 prosen paha Tante tersuguh di depan mataku. Putih licin. Yg tadi bergerak di celanaku, berangsur membesar.

Macam-macam tergantung musimnya, Tante. Kentang, jagung, tomat Nyaris saja saya didapati mataku memelototi pahanya.

Seandainya anda ingin makan, duluan aja

Kelak aja Tante, nunggu Oom Saya benar-benar belum lapar. Adikku bisa jadi yg lapar

Oom tadi nelepon ada program makan tengah malam sama tamu dari Singapur, pulangnya tengah malam

Aku belum lapar jawabku biar saya tak kehilangan momen yg bagus ini.

Anda betah di sini ? Dia membungkuk memijit-mijit kakinya. Betisnya itu

Kerasan sekali, Tante. Cuman aku tidak sedikit saat luang Tante, biasa kerja di kampung, sih. Bila ada yg dapat aku bantu Tante, aku siap

Ya, anda biasakan lalu di sini, kelak Tante kasih pekerjaan

Mengapa kakinya Tante ? Sekedar ada argumen untuk menikmati betisnya.

Pegel, tadi senamnya habis-habisan

Di antara kancing daster yg satu dgn kancing yang lain terdapat celah. Ada yg sempit, ada yg lebar, ada yg tertutup. Celah mula-mula, lebar sebab busungan dadanya, menyuguhkan bidang kanan atas buah dada kiri.

Celah ke-2 memperlihatkan kutang bidang bawah. Celah ke3 rapat, celah keempat tidak demikian lebar, ada perutnya. Celah berikutnya walau sempit namun pass membuatku tahu jika celana dalam Tante warna merah jambu. Ke bawah lagi ada sedikit paha atas & terakhir, ya yg kancingnya lepas tadi.

Ingin bantu Tante sekarang ini?

Kapan saja aku siap

Betul ?

Kewajiban aku, Tante. Musim numpang di sini engga kerja apa-apa

Pijit kaki Tante, ingin ?

Hah ? Saya tidak menyangka dikasih pekerjaan mendebarkan ini

Umumnya sama Si Mar, tetapi dirinya lagi engga ada

Tetapi aku engga sanggup mijit Tante, hanya sekali aku sempat mijit kaki kawan yg keseleo sebab bermain bola Saya menginginkan dia jangan sampai membatalkan perintahnya.

Engga apa-apa. Tante ambil bantal dahulu Goyang pinggulnya itu

Kini dia tengkurap di karpet. Hatiku bersorak. Saya sejak mulai dari pergelangan kaki kirinya. Aah, halusnya kulit itu. Nyaris semua badan Tante sempat kulihat, tetapi baru inilah saya merasakan mulus kulitnya. Mataku ke betis yang lain mengamati bulu-bulu halus.

About admin

Check Also

NGENTOT DENGAN ANAK GADIS BOSS KU

CERITA SEKS NGENTOT DENGAN ANAK GADIS BOSS KU   DOWNLOAD CERITA SEKS NGENTOT DENGAN ANAK GADIS BOSS KU …