Home / Cerita sex / Nafsu Terpendam ku Terhadap Bu Nana

Nafsu Terpendam ku Terhadap Bu Nana

CeritaSexAbg|Nafsu Terpendam ku Terhadap Bu Nana – Aku sudah memperhatikannya semenjak aku duduk di kelas 1 SMU. Ibu Nana, guru biologi kelas 2. Diantara guru-guru disekolah ini tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya. Dalam hati aku menyukai Ibu guru ini. Sering aku menjadi salah tingkah jika tak sengaja berpapasan dengannya. Meskipun usianya menginjak 30 tahun namun hal itu tidak mengubah apa-apa pada dirinya. Ia tidak kalah di banding teman-teman sekelasku. Hal yang kunanti akhirnya tiba juga. Ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan pelajaran biologi di kelas 2.

Nafsu Terpendam ku Terhadap Bu Nana

Aku menjadi gugup ketika tiba giliranku untuk memperkenalkan diriku padanya. Dan tak lama kemudian dia mulai memberikan pelajarannya. Aku memang tidak pernah melakukan hubungan sex sebelumnya, namun aku sudah keranjingan film porno semenjak kelas 1 SMP. Penisku mulai ereksi karena fantasi-fantasi pornoku, dan tentunya objekku adalah Ibu Nana. Ketika dia membelakangi kelas, aku membayangkan meremas payudaranya dari belakang, dan pada saat dia membungkuk untuk mengambil penghapus papan tulis aku membayangkan aku sedang melakukan doggie style dengannya.

2 jam pelajaran kulewati tanpa mendapat apa-apa. Aku sibuk dengan fantasiku pada Ibu Nana, apalagi semalam aku menonton film porno yang pada salah satu adegannya si wanita mengoral penis si pria sampai berejakulasi didalam mulutnya, kemudian dengan rakus si wanita menelan sperma pria itu. Bibir Ibu Nana yang bergerak-gerak menerangkan tentang organisme bersel satu kufantasikan sedang mengulum penisku sehingga hanya kelihatannya saja aku memperhatikan ucapannya, padahal pikiranku saat itu sedang liar. Aku yakin jika Ibu Nana bisa mengetahui pikiranku dia akan pingsan karena terkejut.

Selesai pelajaran biologi ada istirahat makan siang. Aku segera menuju ke kamar mandi pria “tempat keramatku”. Kubuka ritsletingku, kukeluarkan penisku yang ereksi, kemudia kukocok dengan cepat, tak sampai 2 menit aku sudah berejakulasi. Setelah berejakulasi aku merasa pikiranku menjadi tenang, dan akupun menuju kantin sekolah untuk membeli makanan.

Berikutnya ada pelajaran kimia, kali ini aku masih bisa berkonsentrasi pada pelajaran karena guruku kali in Ibu Lina, usiannya sudah 50 tahun. Dengan cepat 2 jam pelajaran terlewati. Kini sudah saatnya untuk pulang. Namun aku tidak langsung pulang, melainkan aku meminjam catatan biologi milik temanku dan akupun kemudian menyalinnya untuk mengejar ketinggalanku tadi. Aku melihat jam dinding sudah menunjukan jam 2:30 siang. Akupun membereskan buku-bukuku dan bersiap pulang. Akan kulanjutkan dirumah pikirku.

Aku berjalan keluar dari kelasku. Tak sampai beberapa meter aku menghentikan langkahku. Di sebelah kelasku adalah kelas 2c, tidak ada seorangpun disana sedangkan lampunya masih dinyalakan, namun bukan itu yang menarik perhatianku. Tas berwarna hitam yang terletaK diatas meja guru, aku yakin itu adalah milik Ibu Nana. Apa dia lupa tasnya? Tanyaku dalam hati. Dengan perlahan aku memasuki kelas itu, kulihat sekeliling untuk memastikan tidak ada seorang pun disana.

Jantungku berdebar kencang ketika aku dengan perlahan membuka tas itu. Seakan tidak percaya pada apa yang ada ditanganku. Itu adalah celana dalam wanita berwarna putih. Aku melihatnya lebih jelas, celana dalam itu nampaknya sedikit lembab, dan segera ada bau aneh yang tercium olehku. Kudekatkan hidungku ke celana dalam itu untuk menghirup lebih bayak bau yang keluar dari celana dalam itu.

“Ngapain kamu disini!”

Dengan cepat aku membalikkan tubuhku. Jantungku seakan berhenti melihat Ibu Nana berdiri dihadapanku melotot padaku. Karena terkejutnya tanganku masih menggenggam celana dalam itu. Mulutku terbuka namun tidak dapat berkata apa-apa. Ibu Nana melihat tanganku, dia tampak kaget.

“Kamu anak kelas 2b?” tanyanya padaku dengan nada membentak.
“Iya Bu,” jawabku dengan suara tercekat.

Ibu Nana lalu berjalan mendekatiku dan dengan cepat merebut celana dalam ditanganku, lalu mengambil tasnya dan memasukKan celana dalam itu ke dalam tasnya. Aku terdiam tertunduk, tak tahu apa yang harus aku perbuat.

“Kamu benar-benar kurang ajar,” katanya padaku.

Aku terdiam tidak berani membantahnya.

“PPLAAKK!”

Sebuah tamparan keras mendarat dipipiku. Rasanya panas seperti terbakar.

“Maaf Bu,” ujarku dengan pelan.
“Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah ini kalau saya adukan masalah ini kepada kepala sekolah,” ujarnya padaku.

Aku masih terdiam. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku perbuat.

“Ikut saya ke kantor,” kata Ibu Nana padaku.
“Jangan Bu.. Saya minta maaf Bu,” ujarku padanya.

Dia tidak menghiraukan perkataanku. Tangannya menarik tanganku.

“Jangan Bu, jangan laporkan saya.. Hukum saja saya Bu,” kataku padanya.

“Dihukum? Kamu kira kamu cukup dihukum?” ujarnya dengan marah.

Aku terdiam, mataku sudah berkaca-kaca menahan air mata. Aku tidak ingin dilaporkan ke kepala sekolah. Pasti orang tuaku akan dipanggil kesekolah lalu diberitahu perbuatanku, terlebih lagi aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah.

“PPLLAAKK!!”

Kembali Ibu Nana menampar pipiku dengan keras. Kepalaku terasa berdenyut-denyut akibat tamparannya.

“JAWABB!!” teriak Ibu Nana di depan wajahku.

Tanpa bisa kutahan aku mulai menagis. Air mata mengalir deras dipipiku. Aku masih terdiam tertunduk sesaat, lalu.

“Tolong Bu jangan laporkan saya.. Saya mau dihukum apa saja Bu asal jangan laporkan saya,” aku berkata sambil menagis terisak.

Kami terdiam sesaat.

“Kamu mau dihukum apa saja?” tanya Ibu Nana dengan pelan.
“I.. Iya Bu saya mau,” ujarku dengan cepat melihat ada kesempatan.

Ibu Nana terdiam, seperti sedang berpikir.

“Besok jam 8 pagi datang ke sekolah, tunggu di depan pagar,” ujarnya padaku.
“Baik Bu,” jawabku tanpa berpikir panjang.

Ibu Nana segera berjalan keluar. Aku menarik nafas panjang, bersyukur tidak terjadi sesuatu yang kutakutkan. Aku terdiam sesaat dikelas mencoba menenangkan jantungku yang masih berdebar kencang. Sesudah itu aku beranjak pulang. Aku masih menyempatkan melihat parkiran. Tidak ada mobil Ibu Nana disana, berarti dia tidak melaporkan perbuatanku pada kepala sekolah. Dengan tenang aku melangkah pulang.

Aku terpaksa mengorbankan kegiatanku pada hari minggu pagi ini. Aku biasa bermain bola pada hari minggu pagi jam 8, namun tentu saja aku tidak akan melanggar janjiku pada Ibu Nana. Kurang sepuluh menit aku sudah menunggu dipagar sekolah. Aku mengenakan kemeja dan celana jeans berwarna biru tua. Semalaman aku susah tidur membayangkan apa kira-kira hukuman yang akan diberikan Ibu Nana padaku.

Aku berpikir mungkin aku akan dihukum menulis, atau menyalin buku catatan, atau yang lebih parah lagi aku dihukum membersihkan rumahnya. Aku masih bisa tersenyum membayangkan hal-hal itu. Aku merasa sudah sekitar 10 menit menunggu disitu. Dan benar saja tak lama kemudian aku melihat mobil katana perlahan berhenti di depanku. Aku tahu itu mobil Ibu Nana, namun aku tidak langsung menghampirinya. Lalu pintu mobil di bagian penumpang terbuka, seakan menyuruhku masuk, akupun menghampirinya. Aku melihat Ibu Nana duduk dikemudi.

“Naik,” perintahnya.

Kami sama sekali tidak bicara apa-apa, sesekali aku mencuri lihat ke arah Ibu Nana. Dia tampak lain sekali hari ini pikirku. Ibu Nana mengenakan kaos berwarna kuning dan celana pendek berwarna coklat. Berbeda sekali dengan waktu biasa mengajar dimana dia mengenakan setelah jas dan rok formal.

“Nama kamu Indra?” tanya Ibu Nana dengan tiba-tiba.
“Iya Bu,” jawabku.

Lalu kami kembali terdiam. Tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah. Dia menghentikan mobilnya lalu turun. Aku juga segera mengikutinya. Tanpa bicara Ibu Nana membuka pintu rumah itu lalu menyuruhku masuk. Dengan tidak berbicara aku masuk mengikutinya. Ibu Nana memberiku isyarat agar aku mengikutinya. Dia membawaku masuk kedapur.

“Cuci piring-piring itu, awas kalau sampai ada yang pecah,” Ibu Nana berkata demikian sambil menunjuk ketumpukan piring kotor.
“Saya beri kamu waktu setengah jam, harus sudah selesai,” ujarnya lagi.
“Baik Bu,” jawabku.
“Oh ya.. Pakai ini,” kata Bu Nana sambil melemparkan sebuah kain kepadaku.

Aku menangkapnya, tampaknya itu sebuah celemek. Tanpa bicara aku segera memakainya, sebenarnya aku enggan karena hal itu membuatku malu. Aku terlihat seperti pelayan, namun aku tidak berani berkata apapun, takut nanti Ibu Nana berubah pikiran. Hukuman ini tidak seberapa jika di bandingkan dikeluarkan dari sekolah pikirku. Ibu Nana lalu membantu mengikatkan tali dipunggunku. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh pada saat Ibu Nana tersenyum melihat aku mengenakan celemek itu. Dia lalu beranjak pergi meninggalkanku. Dan langsung saja aku memulai pekerjaanku.

Ibu Nana tampaknya keluar dari rumah, karena aku mendengar suara pintu yang dibuka, tapi nampaknya ia tidak menggunakan mobilnya. Aku segera menghentikan pikiranku dan mulai mengerjakan mencuci piring-piring kotor itu. Sebenarnya piring-piring itu tidak banyak, namun karena aku tidak pernah mencuci piring sebelumnya ditambah aku ingin Ibu Nana puas akan pekerjaanku makan membutuhkan waktu yang cukup lama juga untuk menyelesaikannya. Ketika tinggal satu piring lagi tersisa aku mendengar suara pintu dibuka, lalu aku juga mendengar pintu itu dikunci. Agak heran juga aku akan perbuatan Ibu Nana. Aku mendengar langkah sepatu, ketika aku menoleh aku melihat Ibu Nana. Tampaknya ia sehabis olah raga. Keringat mengalir deras ditubuhnya, tangannya mengipas-ngipas wajahnya.

“Sudah Bu,” kataku padanya.
“Benar sudah semua?” tanyanya memastikan.
“Iya Bu,” jawabku.
“Bagus, sini ikut Ibu,” katanya padaku sambil berdiri.

Aku berjalan mengikuti dibelakangnya. Dia membawaku kekamar, sepertinya itu adalah kamarnya karena itu merupakan kamar satu-satunya di rumah ini. Tampaknya Ibu Nana tinggal sendirian dirumah ini. Aku segera berpikir yang tidak-tidak ketika memasuki ruangan itu. Tanpa kusadari penisku mulai menegang karena fantasiku. Ruang kamar tidur itu luas sekali, didalamnya ada kamar mandi yang pintunya hanya berupa kain plastik yang bisa digeser seperti diruang untuk mencoba baju di mal-mal.

Ada satu hal yang menarik perhatianku, ruangan ini tidak seperti ruangan wanita yang pada umunya rapi. Ruangan ini berantakan. Ada baju kotor dimana-mana. Aku berpikir pastilah aku disuruh membersihkan ruangan ini.

“Besok saya akan melaporkan perbuatan kamu pada kepala sekolah,” kata Ibu Nana padaku.

Aku terkejut mendengar perkataannya. Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

“Tapi Bu.,” kataku padanya.
“Diam!” bentaknya dengan marah.
“Tapi Ibu bilang..,”
“PPLLAKK!!” Sebuah tamparan keras mengenai pipiku.
“Diam!” bentaknya lagi.

Aku terdiam sambil tanganku mengusap-usap pipiku yang panas.

“Perbuatan kamu kemarin benar-benar kurang ajar, tidak ada hukuman yang sebanding dengan perbuatanmu,” katanya padaku.

Dia terdiam sejenak.

“Sekarang kamu pulang!” katanya padaku.
“Saya bersedia dihukum apa saja Bu” kataku padanya dengan cepat.

Dia kembali terdiam, tampaknya sedang menimbang-nimbang perkataanku.

“Apa saja?” tanyanya.
“Iya Bu apa saja,” jawabku yakin.
“Baik mulai sekarang kamu lakukan apa yang Ibu suruh, jangan sekali-kali melawan,” katanya padaku.
“Baik Bu,” jawabku sedikit kesal.

Aku melihatnya tersenyum padaku. Aku menatap matanya seakan menunggku apa yang akan dia perintahkan padaku.

“Kebelakangkan tangan kamu,” katanya padaku.

Aku menuruti perintahnya meskipun aku heran sekali mendengar perkataannya. Ibu Nana berjalan kebelakangku dan tangannya dengan lembut memegang kedua tanganku yang terletak dibelakang. Jantungku berdetak cepat merasakan tangan lembutnya memegang tanganku, bahkan tangan Bu Nana yang lain meremas-remas pantatku. Aku merasa terkejut dan tidak nyaman dengan perlakuannya, namun aku tidak berani berkata apa-apa. Meskipun Ibu Nana dibelakangku aku dapat merasakan dia sedang mengerjakan sesuatu dibelakangku. Aku tidak berani menoleh kebelakang karena aku tahu Ibu Nana bisa sewaktu-waktu berubah pikiran, maka itu sekarang ini aku lebih baik tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya.

Dengan cepat Ibu Nana selesai mengikat kedua tanganku. Ketika aku sadar apa yang terjadi padaku aku memberanikan diri melihat apa yang terjadi padaku. Aku melihat kedua tanganku diikat dengan sesuatu, tampaknya itu adalah sebuah BH berwarna putih. Aku mencoba menggerakan kedua tanganku, tapi nampaknya Ibu Nana mengikat dengan benar-benar kuat

Terkejut dengan keadaanku, dengan cepat aku membalikkan badanku sehingga berhadapan dengannya. Sebuah tamparan keras mengenai wajahku sesaat sebelum aku mengucapkan sesuatu. Kali ini Ibu Nana menampar dengan sekuat tenaganya. Tidak siap akan hal itu akupun kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab dilantai.

“DIAM! Jangan banyak bicara,” bentaknya padaku.

Aku telungkup di lantai. Kukejap-kejapkan mataku mengusir cahaya kelap-kelip. Aku merasakan sesuau menindih tubuhku, tampaknya itu adalah tubuh Ibu Nana. Tangannya melepas tali pada celemek yang sejak tadi masih aku kenakan. Lalu dia membalikkan tubuhku. Tangannya bekerja dengan cepat melepas ikat pinggangku. Selama dia melakukannya aku tidak berbicara apa-apa. Jika tadi aku takut dia akan melaporkanku, kini aku takut jika dia kembali menamparku. Tamparannya benar-benar keras, sampai sekarang aku masih merasakan pipiku panas terbakar dan kepalaku berdenyut-denyut karenanya.

Ibu Nana mencoba mengikat kakiku dengan ikat pinggang yang berhasil dilepasakannya dari celanaku. Aku mencoba memberontak setelah mengetahui apa yang akan dilakukannya namun terlambat, dia sudah mengikat dengan kuat kedua kakiku. Dia melibat kedua kakiku dengan ikat pinggangku lalu menguncinya.

“Bu kenapa?” aku ingin bertanya banyak hal namun cuma itu yang keluar dari mulutku.
“DIAM!” bentaknya.

Kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak terduga. Dia melepaskan celana pendeknya lalu masih tetap di hadapanku dia melepaskan celana dalamnya juga. Dengan tanpa halangan aku dapat melihat vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Dengan cepat dia melepaskan tali pada celana pendeknya lalu dia membawa tali itu bersama dengan celana dalamnya ke arahku. Penisku dengan cepat menegang melihat pemandangan di depanku itu. Dengan tangannya Ibu Nana menjepit hidungku dengan pelan. Untuk menghirup udara aku membuka mulutku dan pada saat itulah tangannya mencengkram pipiku, kemudian dengan kasarnya dia memasukkan celana dalam yang bekas dipakainya itu ke dalam mulutku. Dia menekan-nekan celana dalam itu dengan keras sehingga membuatku hampit tersedak. Tidak hanya sampai disana, setelah celana dalam itu masuk seluruhnya dalam mulutku dia mengikatkan tali yang tadi dibawanya melingkari mulutku yang tersumpal celana dalam itu lalu mengikatnya. Kini meskipun aku berusaha sekuat tenagaku aku tidak bisa mengeluarkan celana dalam itu dari mulutku.

Setelah sesaat aku baru merasakan rasa asin dimulutku. Aku yakin asalnya dari celana dalam itu. Aku memang tidak pernah merasakan cairan wanita, namun dari artikel yang pernah kubaca, cairan itu berasa asin. Dengan puas Ibu Nana melihat hasil pekerjaannya pada diriku. Melihat hasil pekerjaannya yang cepat pastilah hal ini sudah direncanakannya. Aku terbaring tak berdaya. Kedua tanganku terikat dengan kuat, demikian pula dengan kakiku. Mulutku tersumbat penuh oleh celana dalam miliknya.

Kancing kemejaku sudah dilepaskan semua olehnya. Dada telanjangku terpampang dengan jelas. Ibu Nana tidak berhenti sampai disana. Tangannya dengan cepat membuka kancing celana jeans yang kukenakan, membuka retsletingnya lalu dengan cepat memelorotkan celana itu sampai kelututku. Kini praktis tinggal celana dalam berwarna hitam yang masih menutupi tubuhku. Penisku yang tegang tercetak jelas disana. Ibu Nana melihatnya dengan pandangan mengejek ke arahku. Dengan sekali tarik celana dalam itu merosot sampai ke lututku. Aku berusaha menggerakkan tubuhku kesamping untuk menutupi ketelanjanganku. Aku malu sekali akan keadaanku sekarang apa lagi di hadapanku adalah Ibu Nana, guru yang kusukai.. Dulu.

Ibu Nana dengan santainya menahan pinggulku dengan telapak kakinya, praktis aku sudah tidak bisa bergerak lagi. Perlahan telapak kaki Ibu Nana bergerak ke arah penisku yang tegang. Dengan lembut dia mengusap-usap penisku dengan kakinya, lalu kakinya perlahan bergerak ke testisku. Dengan jari-jari kakinya dia memainkan testisku.

Aku menatapnya seakan tidak percaya bahwa dia adalah Ibu Nana yang selama ini kukenal. Aku merasa sakit oleh karena perbuatannya, namun yang lebih kurasakan adalah rasa malu.

“Enak ya?” katanya padaku sambil tersenyum.
“Mpphh.. Mpphh,” aku berusaha mengatakan sesuatu namun sumpal dimulutku tidak memungkinkan aku untuk mengeluarkan suara yang bisa dimengerti.

Ibu Nana berjalan menujuku sampai berada dekat sekali denganku. Dengan perlahan dilepaskannya kaos yang dikenakannya. Aku melihat dia mengenakan BH warna hitam. Tak sampai disana dia juga melepaskan BH itu. Di hadapanku Ibu Nana telanjang bulat, hanya sepatu kets warna putih dan kaos kaki yang masih dikenakannya. Aku dapat melihat tubuhnya yang berkilat akibat keringat yang mengalir deras ditubuhnya.

Suatu pemandangan yang sebelumnya kuanggap mustahil kulihat dikenyataan. Ibu Nana belum pernah menikah, maka itu tubuhnya masih langsing di usiannya. Ukuran buah dadanya juga sempurna dengan tubuhnya. Tangannya membawa BH yang tadi dilepaskannya ke arah wajahku. Dia menggunakan benda tersebut untuk menutup mataku lalu mengikatnya dibelakang kepalaku. Pandanganku hampir seluruhnya tertutup oleh BH itu, hanya bagian sudut mataku saja yang masih bisa melihat, itupun terbatas.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, apakah Ibu Nana demikian mendendamnya padaku akibat perbuatanku waktu itu. Aku merasakan ada tangan yang mencengkram rambutku.

“Bangun kamu Anjing!” bentak Ibu Nana.

Sebenarnya aku tidak mempunyai keinginan untuk membantah perkataannya, namun ikatan ditanganku terlebih di kakiku tidak memungkinkanku untuk dapat berdiri.

“Mp.. MMm.. PPHhH..” aku mencoba menjelaskan pada Ibu Nana.
“PPLLAAKK!!” sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.
“BANGUN!!” bentaknya keras.

Dengan segenap tenaga aku berusaha untuk bangun, akhirnya setelah dibantu oleh Ibu Nana akhirnya aku bisa berdiri. Dengan kasar Ibu Nana mencengkram penisku yang tegang, dapat kurasakan kuku-kukunya mengenai permukaan kulit penisku. Dengan mencengkram penisku Ibu Nana memaksaku untuk berjalan mengikutinya. Tentu saja ikatan pada kakiku tidak memungkinkanku untuk bergerak dengan leluasa. Dengan terseok-seok aku mengikuti langkah Ibu Nana. Untung saja ia tidak membawaku jauh, aku hanya merasa berjalan beberapa langkah. Dengan tiba-tiba tubuhku didorongnya hingga terhuyung kebelakang. Aku merasa terkejut dan bersiap-siap untuk jatuh ke lantai.

Ternyata aku tidak terjatuh ke lantai, melainkan ke ranjang. Dengan susah payah Ibu Nana membuat tubuhku berada di tengah-tengah ranjang itu. Karena perbuatannya penutup mataku bergeser sedikit. Ibu Nana menyadarinya lalu kembali membetulkan letak BH itu. Sesaat aku terdiam dalam posisi tersebut. Aku tidak tahu apa rencana Ibu Nana padaku, maka itu aku diam saja tidak bergerak.

“CCTTAARR!”

Tubuhku tersentak kaget. Aku merasakan perih pada pahaku.

“CCTTAARR!”
“CCTTAARR!”
“CCTTAARR!”

Bertubi-tubi aku merasakan perih pada tubuhku. Aku tidak tahu apa yang digunakan Ibu Nana untuk mencambukiku. Aku berusaha berguling-guling untuk menghindari pukulannya. Ibu Nana tidak peduli, dia terus mencambukiku dengan sangat keras. Hingga akhirnya aku terpojok pada sudut ruangan itu. Dan aku pun menjadi bulan-bulanannya. Dia terus mencambukiku sampai sekitar 30 kali baru berhenti. Entah karena dia kelelahan atau apa, yang pasti aku sangat lega dia menghentikan mencambukiku. Hampir seluruh tubuhku terkena pukulannya. Rasa perih dan panas berdenyut-denyut di seluruh tubuhku.

Aku dapat merasakan ikatan kakiku dibuka olehnya, “Jika kamu berani bertindak bodoh siap-siap saja terima hukuman lagi” ancamnya padaku. Setelah itu dengan cepat dia melepaskan celana jeans dan juga celana dalamku. Ibu Nana menjambakku dan menarikku untuk mengikutinya.

Aku dapat merasakan kakiku menginjak lantai yang basah, sepertinya Ibu Nana membawaku ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Aku didorongnya hingga terjerembab di lantai kamar mandi itu. Ibu Nana kemudian menyiramku dengan air. Setelah tubuhku basah semua, dia kembali mencambukiku. Aku berguling-guling di lantai kamar mandi itu untuk menghindari pukulannya. Perbuatanku tampaknya makin membuat Ibu Nana berang.

“Anjing! Dasar Anjing tidak tahu diri!” bentaknya keras padaku.

Tidak pernah kubayangkan Ibu Nana bisa berkata seperti itu. Aku mencoba untuk berdiri, namun tangan Ibu Nana menjambak rambutku dan kembali menghempaskan aku ke lantai. Aku terjatuh teletang di lantai.

“BUKK!”

Sebuah tendangan mendarat tepat di perutku. Aku terbatuk-batuk, namun karena mulutku tersumbat akibatnya malah aku tersedak. Jika saja tidak ada sumpal di mulutku aku pasti sudah memuntahkan isi perutku.

“Pelajaran buat kamu.. Jangan pernah mencoba melawan.. Mengerti?” kata Ibu Nana padaku. Salah satu kakinya menekan testisku.

Dengan lemah aku mengangguk. Kakinya masih “memainkan” testisku. Aku kesakitan, namun tidak memberontak sedikitpun. Tangan Ibu Nana memegang pergelangan kaki kananku. Dia menariknya kesamping lalu mengikatnya, lalu ujungnya diikatkan ke suatu tempat. Ibu Nana lalu melakukannya dengan kakiku yang satu lagi. Kedua kakiku terpentang lebar ke kiri dan kanan. Agak sakit juga kakiku dipentangakan demikian lebar. Aku mencoba menggerakkan kakiku, namun kakiku sama sekali tidak bergerak sedikitpun. Ibu Nana benar-benar kuat mengikat kedua kakiku.

Keadaanku benar-benar mengenaskan. Mataku tertutup oleh BH hitam yang tadi masih dikenakan Ibu Nana, bahkan wanginya masih dapat kurasakan sekarang. Mulutku disumpal oleh celana dalamnya yang habis dikenakannya, lalu diikat dengan tali. Tanganku masih terikat kebelakang, tertindih oleh tubuhku. Kemeja yang tadi kukenakan sudah basah kuyub dan masih tersangkut di pergelangan tanganku. Yang lebih parah kedua kakiku dipaksa merentang lebar oleh ikatan tali sampai pantatku sedikit terangkat dari lantai kamar mandi itu. Dan tentunya Ibu Nana bisa melihat dengan jelas seluruh tubuhku, termasuk juga alat-alat kelaminku.

Sekali renggut Ibu Nana membuka penutup mataku. Tubuhnya masih telanjang bulat seperti tadi. Keringat mengalir deras ditubuhnya. Salah satu tangannya membawa ikat pinggang kulit. Tampaknya benda itu yang dia pakai untuk mencambukiku. Penisku yang sudah lemas kembali mengeras melihat pemandangan di depanku. Ibu Nana kemudian mengeluarkan celana dalam dari mulutku, namun masih membiarkan ikatan talinya. Bahkan Ibu Nana memperkuat ikatan tali itu. Mulutku sampai dipaksa mengaga karena ikatan tali itu.

Ibu Nana mendekatiku. Wajahku terletak tepat di bawah kedua kakinya. Dengan perlahan dia menurunkan pinggulnya sampai vaginannya menempel tepat dimulutku yang terbuka. Dapat ku cium aroma keras dari vaginanya. Kedua pahanya ada di sisi kiri kanan kepalaku dan menekan kepalaku dengan keras membuat kepalaku tidak dapat bergerak sedikitpun. Ibu jari dan telunjuknya menjepit hidungku, sehingga mau tidak mau aku bernafas melalui mulut. Dan pada saat itulah aku merasakan air menyembur ke dalam mulutku. Tanpa dapat kutahan aku menelan cairan itu. Aku tahu bahwa itu adalah air kencing Ibu Nana. Aku berusaha tidak menelannya, namun tak lama kemudian aku sudah kehabisan nafas. Dengan tersedak-sedak aku menelan air kencing itu.

Aku benar-benar terhina dengan perlakuan Ibu Nana. Aku menelan air kencing itu agar aku dapat bernafas dengan mulutku, namun seakan tidak pernah berakhir Ibu Nana masih terus mengeluarkan air kencingnya. Aku terus-menerus menelan dengan cepat cairan itu. Pandangan mataku perlahan-lahan menjadi gelap. Dadaku serasa panas terbakar. Ketika aku sudah hampr pingsan baru Ibu Nana menghentikannya.

Dengan cepat dia memindahkan semprotan air seninya ke arah wajahku. Dengan cepat aku meneguk cairan yang tersisa di mulutku. Baru setelah itu aku kembali dapat bernafas dengan mulutku. Jantungku berdetak dengan cepat. Dengan susah payah kuatur nafasku yang terengah-engah. Mataku yang tersiram sedikit terasa perih maka itu ku pejamkan kedua mataku. Tak lama kemudian Ibu Nana selesasi mengeluarkan semuanya. Dia melepaskan jepitan tangannya pada hidungku. Baru pada saat itu aku dapat mencium bau pesing dari air kencing Ibu Nana. Perutku terasa kembung oleh cairan itu. Wajah dan rambutku hampir semuanya tersiram air kencing Ibu Nana. Aku masih tidak bisa membuka mataku karena perih terkena cairan itu. Kemudian aku mendengar langkah kaki Ibu Nana meninggalkan ruangan itu.

Aku ditinggalkannya sendirian dalam ruangan ini. Tanganku yang tertindih tubuhku terasa sakit dan pegal sekali. Kedua telapak kakiku terasa dingin karena tidak dialiri darah. Hal ini masih lebih baik jika dibanding Ibu Nana masih disini. Entah dengan cara apa lagi dia akan menyiksaku. Dengan cepat lelah menyerang tubuhku. Aku mencoba untuk tidur dengan keadaan demikian, namun dengan cepat aku terbangun.

Lama kelamaan aku makin merasa tersiksa dalam posisi demikian. Tubuhku sudah kering, demikian juga dengan wajahku yang tadi dikencinginya. Bau pesing tidak dapat hilang, tiap kali aku bernafas bau itu tercium juga. Namun yang paling parah adalah tangan dan kakiku yang sakit sekali. Entah berapa lama aku dalam keadaan demikian. Perasaanku aku sudah berjam-jam di dalam kamar mandi itu.

Aku mendegar seseorang masuk ke dalam kamar. Sesaat kemudian Ibu Nana masuk ke dalam kamar mandi itu. Dia mengenakan baju bali tipis berwarna putih dan celana yang sangat pendek. Puting susunya tercetak jelas di pakaiannya. Dia tersenyum melihat keadaanku.

“Turuti semua perintah Ibu, kalau tidak mau di hukum lebih parah, ” katanya padaku.

Dengan susah-payah aku mencoba untuk mengangguk.

Ibu Nana berjalan ke arahku, lalu tangannya menyalakan shower dan mulai menyiram tubuhku. Tampaknya dia sedang membersihkan tubuhku dari sisa-sisa air kencingnya. Setelah kira-kira sudah bersih dia menghentikan pekerjaannya, lalu tangannya mulai membuka ikatan di mulutku. Aku merasa lega sekali ketika ikatan di mulutku sudah terbuka. Rongga mulutku kering dan rahangku terasa pegal sekali akibat mulutku terus-menerus dipaksa terbuka.

Ibu Nana kemudian membuka ikatan tali pada kedua kakiku. Kakiku terasa lemas sekali seperti tidak ada tenaga sama sekali. Untuk beberapa saat aku bahkan tidak bisa menggerakkan kakiku. Ibu Nana bekerja dengan cepat, sesudah membuka ikatan kakiku dia membalikkan tubuhku dan membuka ikatan pada tangannku. Kemejaku yang basah di lepaskannya dari tanganku.

Dengan menarik rambutku Ibu Nana membawaku keluar dari kamar mandi itu. Aku berjalan terhuyung-huyung karena kakiku masih belum sepenuhnya pulih. Setelah kami berada di ruang tidurnya barulah Ibu Nana melepaskan tangannya dari rambutku. Aku berdiri dengan goyah. Kakiku seakan tidak kuat menahan berat badanku sendiri.

“Berlutut!” bentaknya padaku.

Dengan lutut gemetar aku mencoba untuk berlutut. Dengan kasar tangan Ibu Nana menekan kepalaku sampai mengenai kakinya.

“Bersihkan kakiku!” katanya padaku.

Aku menatap matanya dengan pandangan tidak mengerti. Aku memang tidak terlalu menangkap maksud perkataannya. Aku sudah memikirkannya, lebih baik untuk sementara ini aku menuruti semua perkataanya dan juga aku menjaga agar tidak terlalu banyak bicara.

“Jilati kaki majikan kamu, Anjing!” katanya padaku dengan dingin.

Aku seperti disiram air dingin mendengar perkataannya padaku. Aku menatap kaki Ibu Nana, melihat kulit kakinya yang mulus dan bersih. Tidak ada alasan buatku untuk membantah perintahnya. Baru ketika aku mau melakukannya.

“CCTTAARR!!”

Sebuah pukulan mendarat di kulit pantatku.

“Aaahh!!” teriakku kesakitan.
“Kamu memang benar-benar seperti Anjing, harus dipukul baru mengerti” katanya padaku.

Dengan cepat kedua tanganku memegang kaki Ibu Nana yang disodorkannya padaku. Lidahku mulai menyapu permukaan kakinya.

“CCTTAARR!!”

Kembali sebuah pukulan mendarat di pantatku.

“Aaahh!!” teriakku.

Mataku menatap matanya seakan memprotes tindakannya. Ibu Nana bukannya tidak tahu perbuatanku.

“DIAAM!!” bentaknya sambil menampar keras pipiku.
“Kecuali saya ijinkan kamu tidak boleh berbicara apa-apa,” katanya padaku.
“Mengerti?” lanjutnya.

Aku hanya mengangguk.

“Lanjutkan tugas kamu,” katanya lagi.

Aku melakukannya dengan cepat, sementara itu Ibu Nana sesekali masih mencambuk pantatku dengan ikat pinggang itu. Aku tidak berani untuk berteriak, aku hanya menahan meskipun sesekali keluar juga erangan kecil dari mulutku.

“CCTTAARR!!”
“Bersihkan juga sela-sela jarinya,” perintahnya padaku.

Dengan patuh aku melakukan semua perintahnya padaku. Setelah sekitar lima menit dia mengganti dengan kakinya yang satu lagi.

Setelah Ibu Nana merasa sudah cukup, dia menyuruhku untuk berhenti. Ibu Nana memberiku isyarat untuk mengikutinya. Kemudian Ibu Nana mengambil 2 utas tali yang tergeletak di lantai dan juga celana dalam yang tadi digunakannya untuk menyumpal mulutku. Perasaanku mengatakan tali itulah yang digunakannya untuk mengikat kedua kakiku tadi.

Aku berjalan di belakangnya dengan wajah menunduk. Ibu Nana membawaku keluar dari kamarnya. Mataku melihat sekeliling, tidak ada orang lain selain kami di rumahnya. Ibu Nana membawaku ke bagian belakang rumah itu. Di sana ada ruang terbuka, namun di skelilingnya dipagari tembok tinggi. Tidak mungkin ada orang yang dapat melihat kami, pikirku. Dapat kukatakan fungsi ruangan itu adalah sebagai tempat menjemur baju.

Ibu Nana membawaku ke arah tiang besi yang letaknya di tengah-tengah ruangan itu. Dasar tiang besi itu tertanam dalam lantai, tampaknya sangat kokoh. Diameter tiang itu sekitar 10 centi dengan tinggi sekitar 2 meter dan di cat berwarna hitam. Fungsinya adalah tempat untuk mengikat tali jemuran. Ibu Nana melepaskan tali yang terikat di tiang itu. Setelah semuanya terlepas, Ibu Nana menyuruhku untuk berdiri dengan punggungku menempel di tiang tersebut. Kedua tanganku di tarik kebelakang lalu kedua pergelangan tanganku diikat jadi satu oleh tali yang tadi dibawanya. Tali itu adalah tali sepatu miliknya.

Tak ketinggalan kedua kakiku juga diikat menjadi satu dengan tiang itu. Dan terakhir Ibu Nana mengambil tali jemuran yang tali dilepaskannya. Diikatnya leherku dengan tali itu menyatu dengan tiang itu. Kaki dan tanganku diikat dengan kuat, namun sebaliknya ikatan pada leherku dibuat sedikit longgar. Setelah diriku dalam posisi demikian, Ibu Nana mulai mengayunkan benda yang ada di tangannya.

“CCTTAARR!!”
“CCTTAARR!!”
“CCTTAARR!!”

Terus menerus Ibu Nana mengayunkan tangannya. Akupun tidak ketinggalan untuk menjerit-jerit, namun tanpa kusadari aku berusaha menahan jeritanku, aku takut jeritanku terlalu keras sehingga membuat orang-orang sekitar mendengarnya. Cambukannya mengenai dada, perut dan juga pahaku, bahkan ada sebuah yang nyaris mengenai alat vitalku. Dengan menahan sakit aku menerima pukulah-pukulan itu.

Sudah sekitar 20 kali Ibu Nana mencambukiku, namun tampaknya belum ada tanda-tanda dia akan menghentikannya. Mau tidak mau aku merasa heran juga dengan kekuatannya. Setelah beberapa kali lagi mencambukku Ibu Nana kemudian menghentikannya. Tangannya memunguti jepitan-jepitan baju yang berserakan di lantai. Dia mengambil 4 diantaranya, kemudian membawanya ke arahku.

Dengan perlahan tangannya mencoba menjepitkannya pada putingku. Aku tidak berkata apa-apa, namun mataku memandang perbuatannya dengan gelisah.

“Aaahh” teriakku keras ketika Ibu Nana menjepitkannya.

Rasa perih seakan mengalir dari jepitan itu dan mengaliri seluruh tubuhku. Aku meronta-ronta dari ikatanku, namun tidak
berhasil bergerak sedikitpun. Dengan cepat Ibu Nana menyumpal mulutku dengan celana dalam yang tadi dibawanya. Dia menekannya dalam-dalam sampai suara jeritanku tidak terdengar lagi. Tanpa menunggu lagi dia menjepit putingku yang lain.

Jika saja mulutku tidak tersumpal, pastilah jeritanku waktu itu bisa terdengar oleh tetangga rumahnya. Dua buah jepitan yang lain digunakannya untuk menjepit testisku. Tidak sesakit jepitan di putingku, namun aku khawatir perbuatannya padaku bisa menyebabkan kerusakan permanen pada alat kelaminku itu. (pada saat itu aku belum begitu mengerti akan hal ini).

Setelah selesai Ibu Nana meninggalkanku lagi. Rasa sakit akibat jepitan itu berangsur-angsur berkurang. Saat itu kuperirakan sekitar pukul 12:00 – 13:00, matahari sedang terik-teriknya menyiram tubuh telanjangku. Kakiku sudah mulai terasa pegal karena lama berdiri. Aku sudah mencoba untuk berjongkok, namun tampaknya tali yang membelit leherku dikaitkan ke sesuatu di tiang itu sehingga memaksaku untuk terus berdiri. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhku
__________________
Sudah sekitar 2 jam aku berada dalam keadaan seperti ini sampai akhirnya aku melihat Ibu Nana. Dengan santai dia berjalan ke arahku. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia membuka ikatan pada kakiku. Kemudian dia melepaskan jepitan pada testisku, seketika itu juga aku merasakan perih sekali pada bagian yang tadi dijepit. Dia melihat ke arah penisku yang lemas, dengan perlahan tangannya mengusap penisku. Tidak membutuhkan waktu yang lama baginya untuk membuat penisku ereksi, lalu dia mulai mengocok penisku dengan cepat. Ibu Nana belum menghentikan perkerjaannya sampai penisku benar-benar tegang. Pada saat itulah dengan tiba-tiba dia menghentikan pekerjaannya.

Dengan cepat tangannya mengambil tali yang tadi dipakai untuk mengikat kakiku, lalu digunakannya tali itu untuk mengikat pangkal penisku. Ibu Nana mengikatnya dengan kuat, dapat kulihat testisku mengelembung akibat ikatan tali itu. Aku hanya merasakan sakit yang tidak seberapa akibat ikatan itu, hanya saja aku menjadi penasaran akan apa lagi yang akan diperbuat olehnya. Tangan Ibu Nana dengan cepat melepaskan jepitan pada kedua putingku. Dengan menggigit celana dalam yang menyumpal mulutku aku mencoba menahan rasa sakit pada putingku. Dapat kurasakan butiran air mata meleleh di kedua pipiku. Baru setelah itu Ibu Nana membuka ikatan pada tangan dan leherku.

Dengan cepat Ibu Nana menuntunku masuk ke dalam. Dia kembali membawaku ke kamarnya. Dengan kasar tubuhku didorong ke ranjangnya. Seperti kesetanan Ibu Nana melepaskan semua pakaiannya dengan cepat, setelah itu langsung menindih tubuhku. Tangannya menggenggam batang penisku yang sejak tadi terus ereksi, akibat ikatan tali itu. Tanpa ba bi Bu lagi Ibu Nana memasukkan batang penisku ke vaginannya.
Melihat keadaanku, bisa dikatakan Ibu Nana memperkosa diriku. Dia menunggangiku seperti kuda liar. Gerakannya cepat dan kasar. Sementara Ibu Nana berteriak-teriak keenakan, aku berteriak kesakitan. Ikatan pada pangkal penisku semakin menyiksaku akibat perbuatannya. Aku mencoba menggunakan tanganku untuk mendorong tubuh Ibu Nana, namun tanganku dengan mudah dapat dipegangnya. Seakan tidak bertenaga sama sekali, tanganku yang dipegangnya tidak dapat berbuat apa-apa. Melihat hal itu aku hanya bisa pasrah saja dengan perbuatan Ibu Nana pada diriku.

Sudah sekitar sepuluh menit Ibu Nana menunggangiku, selama itu pula tidak henti-hentinya aku memohon padanya untuk menghentikan perbuatannya, namun seperti bicara dengan tembok saja layaknya, Ibu Nana tidak menyahuti setiap perkataanku. Bunyi berkecipakan dan bunyi akibat benturan tubuhnya dengan tubuhku, serta teriakan kami seakan-akan saling sahut menyahut.
Tubuh Ibu Nana sudah dipenuhi oleh peluh, bahkan keringatnya sampai menetes-netes ke dadaku.

Tak lama dapat kurasakan jepitan vaginanya pada penisku mengencang, disertai teriakannya dia menghentikan perbuatannya dengan tiba-tiba. Kedua matanya terpejam dan mulutnya mengatup rapat seperti sedang menahan sesuatu, kedua tangannya memainkan kedua buah dadanya. Hampir selama 1 menit Ibu Nana dalam keadaan demikian. Aku menebak dia sedang mengalami orgasme. Sedikit banyak aku merasa agak lega, karena sepertinya penyiksaanku akan segera berakhir. Nampaknya harapanku menjadi kenyataan ketika kulihat Ibu Nana beranjak berdiri dari tempatnya kemudian dia berjalan ke arah rak di sampaing ranjang. Dengan susah payah aku mencoba untuk duduk.

Aku duduk diam sambil mencoba untuk mengumpulkan tenaga yang tadi terkuras habis. Tak lama aku mendengar suara lagu house music yang disetel keras, yang tampaknya disetel Ibu Nana. Tiba-tiba aku merasakan dia sudah ada di sebelahku, dengan sekali dorong, aku kembali ke posisi seperti tadi. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi, namun aku sudah tidak mempunyai tenaga untuk memprotes, apalagi untuk bergerak dengan memejamkan mata aku menunggu apa yang terjadi padaku.

Dengan bantuan music yang menhentak-hentak, Ibu Nana kembali ‘menunggangiku’ dengan beringas. Tangannya sesekali menampar pipiku dan juga menjepit putingku dengan keras. Namun tampaknya keadaanku sudah benar-benar payah sehingga untuk berteriakpun tidak mampu. Aku meraskan tangannya menekan pipiku, memaksa mulutku membuka, kemudian tanpa kuduga Ibu Nana meludah ke dalam mulutku.

“Telan!” perintahnya padaku.

Dengan cepat kutelan air ludahnya di dalam mulutku. Aku agak terkejut juga dengan kepatuhanku padanya. Ibu Nana mengulangi beberapa kali perbuatannya. Setelah itu dia lebih berkonsentrasi pada genjotannya padaku. Aku yakin jika pangkal penisku tidak terikat kuat aku pasti sudah berejakulasi semenjak tadi. Dan pastinya yang kurasakan pasti kenikmatan, bukan kesakitan seperti saat ini. Sudah 10 menit Ibu Nana menggenjotku, namun tidak ada tanda-tanda dia akan menghentikan perbuatannya. Bahkan sepertinya dia malah “menggila”.

Ranjangnya berderik-derik seperti sudah tidak kuat menahan goncangannya. Genjotannya makin lama makin cepat dan kedua tangannya tidak henti-hentinya memainkan kedua payudaranya dan mulutnya tidak henti-hentinya menjerit-jerit keenakan.

Sudah selama 5 menit Ibu Nana dalam keadaan demikian dan sekarang ia sudah hampir orgasme menurutku atau lebih tepat kusebut harapanku.

Dengan tiba-tiba Ibu Nana menghentikan perbuatannya kemudian dengan cepat dia berdiri dan mengarahkan vaginanya ke mulutku. Tanpa ragu aku mulai menjilati vaginanya, karena memang aku jauh lebih menikmati hal ini ketimbang di genjot olehnya. Ibu Nana juga dengan ‘gila’ menggesek-gesekkan vaginannya dimulutku.

Setelah beberapa saat Ibu Nana menjerit dengan keras, kedua pahanya menjepit keras kedua pipiku, lalu dia membenamkan vaginanya dalam-dalam ke mulutku. Kedua tangannya menjambak rambutku. Tak lama kemudian kurasakan cairan seperti lendir masuk ke mulutku. Tanpa disuruh aku menelannya. Sesudah itu Ibu Nana berdiri dan dengan segera melepas ikatan pada penisku. Setelah sakitnya agak menghilang, tanpa dapat kutahan aku tertidur.

Beberapa saat kemudian aku terbangun oleh tamparan Ibu Nana. Aku lihat Ibu Nana menyodorkan pakaianku tadi berikut celana jeans dan celana dalamku. Aku menerimanya, kemudian tanpa mengucapkan apa-apa Ibu Nana hanya berdiri saja meperhatikanku. Aku mengerti apa maksudnya, kemudian dengan cepat aku memakai pakaianku yang tampaknya sudah kering dan sudah disetrika. Sesudah memakai pakaian aku mencoba melihat jam, kulihat sudah jam 5 sore. Sesudah itu aku mencoba mencari cermin, disana kulihat kedua pipiku merah karena tamparannya. Tidak bisa kubayangkan apa alasan yang harus kuberikan pada ibuku nanti.

“Ayo cepat” kata Ibu Nana dengan dingin.

Dengan segera aku mengikutinya, dengan hanya memberi isyarat dia menyuruhku untuk menunggu di mobilnya. Tak lama kemudian Ibu Nana keluar, lalu sesudah mengunci rumahnya kami pergi. Di sepanjang perjalanan Ibu Nana tidak mengucapkan apa-apa. Aku juga hanya tertunduk diam. Tak lama kemudian kami sampai di sekolah, sesudah menurunkanku ia pun pergi meninggalkanku.

Aku kemudian mencari angkutan untuk membawaku pulang. Untung saja pada saat aku pulang di rumahku hanya ada pembantu saja, sehingga aku tidak perlu membuat alasan mengenai keadaanku. Aku langsung saja mandi untuk membersihkan tubuhku. Bekas-bekas pukulannya kembali terasa perih ketika terkena air. Sesudah mandi akupun dengan cepat mengisi perutku yang sudah lapar sekali. Lalu aku segera tertidur.

Keesokannya aku terbangun. Aku melihat jam pk 05:00. Karena kemarin jam 7 malam aku sudah tidur maka kini jam 5 pagi aku sudah terbangun. Bekas tamparan di pipiku sudah hilang, namun badanku terasa pegal-pegal sekali. Kemudian aku menyiapkan diri, lalu berangkat kesekolah. Jam baru menunjukkan pukuk 6:30 ketika aku sampai di sekolah. Belum banyak orang yang datang. Namun aku sungguh terkejut melihat Ibu Nana berdiri di pagar sekolah seakan-akan menungguku. Aku berjalan pelan menghampirinya. Kemudian Ibu Nana menyerahkan sebuah amplop kepadaku.

“Cari tempat sepi, lalu lihat isinya,” ujarnya padaku dengan perlahan, seakan tidak ingin didengar oleh orang lain. Dan kemudian dia segera pergi meninggalkanku. Aku terdiam sejenak, kemudian aku pergi menuju WC pria. Disana dengan perlahan aku membuka amplop itu.

Mataku terbelalak kaget dengan apa yang kulihat di depanku. Disana ada foto diriku yang mengenakan BH dan celana dalam wanita. Seakan tidak percaya dengan apa yang aku lihat aku menatap foto itu selama beberapa detik, kemudian otakku mulai bekerja. Aku dapat menyimpulkan bahwa Ibu Nana yang melakukan ini semua padaku pada saat aku tertidur di ranjangnya kemarin.

Selain itu ada beberapa buah foto lain yang tidak kalah mengejutkan. Ada 2 buah foto diriku yang telanjang bulat, ada foto diriku yang hanya mengenakan BH saja, dan ada sebuah foro diriku yang mengenakan BH dan rok perempuan. Aku sungguh-sungguh panik pada saat itu. Tidak bisa kubayangkan jika foto ini bisa di ketahui oleh teman-temanku, atau bahkan orang tuaku. Selain foto-foto tersebut, Ibu Nana juga memberikan secarik kertas yang berisi pesan.

“Foto-foto itu diambil dengan kamera polaroid, tapi Ibu masih punya 5 foto lain yang lebih heboh dari itu. Mulai sekarang turuti semua perintah Ibu kalau kamu tidak mau foto itu Ibu sebarkan!”

About admin dua

Check Also

NGENTOT DENGAN ANAK GADIS BOSS KU

CERITA SEKS NGENTOT DENGAN ANAK GADIS BOSS KU   DOWNLOAD CERITA SEKS NGENTOT DENGAN ANAK GADIS BOSS KU …